MONSTERA DUA EGO YANG MENANG
MONSTERA DUA EGO YANG MENANG
DAFTAR ISI
Prolog: Bayangan di Balik Gelas Air Putih
Bagian I: Nostalgia Seragam Abu-Abu
Bab 1: Lima Tahun Setelah Gerbang Tertutup
Bab 2: Pelukan Tanpa Nama
Bab 3: Benang Merah dari Negeri Bayah
Bab 4: Melodi di Antara Jam Kosong
Bagian II: Ego dan Pilihan
Bab 5: Ambang Batas yang Kupasang Sendiri
Bab 6: Pecahnya Keheningan di Selasar
Bab 7: Pura-Pura Asing
Bab 8: Sejengkal yang Akhirnya Terhapus
Bagian III: Prahara di Balik Koridor
Bab 9: Di Balik Tirai Hujan
Bab 10: Sebuah Nama dan Sebuah Kepastian
Bab 11: Senin Pagi dan Dasi yang Hilang
Bab 12: Kabar Buruk dari Tegallumbu
Bagian IV: Labirinto Perasaan
Bab 13: Kebenaran yang Terbelah
Bab 14: Siapa Pemenangnya?
Bab 15: Mata-Mata di Balik Koridor
Bab 16: Cemburu Berkedok Canda
Bagian V: Akhir dari Sebuah Rasa
Bab 17: Persimpangan IPA dan IPS
Bab 18: Pertemuan di Balik Dinding Kelas
Bab 19: Fragmen yang Hancur
Bab 20: Dua Orang Asing di Ruang yang Sama
Bab 21: Satu Tahun dalam Kebisuan
Bab 22: Menjadi Asing di Bawah Atap yang Sama
Epilog: Bocoran Masa Depan (Titik Balik)
Bab 1: Lima Tahun Setelah Gerbang Itu Tertutup
Aku duduk di kursi tua dan meja tua yang sudah begitu usang, menatap bayangan yang masih kosong, ditemani segelas air putih yang embun dinginnya mulai membasahi permukaan meja. Kadang aku berpikir untuk menyeduh kopi, tapi teringat bahwa tabung LPG habis, dan bagus pula untuk kesehatan minum air putih itu penting, apalagi saat hati sedang tidak dalam kondisi terbaiknya untuk mengenang masa lalu.
Lima tahun berlalu, tapi aroma koridor sekolah itu masih bisa kuhirup dengan jelas jika aku memejamkan mata. Aroma buku tua lks di bawah meja itu masih harum dengan banyak nya pekerjaan rumah, wangi rumput lapangan yang baru dipotong, dan wangi parfumnya yang selalu samar, namun paling nyata di ingatanku.
Dahulu, sekolah bukan hanya tempat mencari ilmu bagiku. Sekolah adalah sebuah panggung sandiwara besar yang kumainkan bersamanya. Kami adalah aktor terbaik dalam peran "teman baik". Tidak ada yang curiga, tidak ada yang tahu bahwa setiap tawa yang kami bagi di kantin adalah selubung untuk debar jantung yang tak keruan.
Aku ingat sekali siang itu di kelas yang sudah sepi menuju pulang, hanya ada aku dan dia. Sinar matahari menyengat masuk melalui jendela, menyinari wajahnya yang sedang serius mengerjakan tugas.
"dree," panggilnya tiba-tiba tanpa menatapku. "Kalau nanti kita sudah lulus, kamu bakal tetap ingat aku, kan?"
Aku terdiam cukup lama, berpura-pura sibuk dengan pulpen di tanganku. Ingin rasanya aku menjawab, 'Bukan cuma ingat, aku ingin tetap ada di sampingmu.' Tapi yang keluar dari mulutku hanyalah kalimat aman yang paling kusesali sampai hari ini.
"Ya ingatlah. Kamu kan teman paling berisik yang pernah aku punya," jawabku sambil tertawa hambar.
Dia ikut tertawa, tapi aku melihat ada sesuatu yang redup di matanya. Mungkin saat itu dia juga sedang menunggu satu kata jujur dariku. Mungkin saat itu, di balik diamnya, dia juga sedang menyimpan rasa yang sama besarnya. Kami saling mencintai dengan cara yang paling pengecut: saling menunggu siapa yang akan menyerah pada gengsi lebih dulu.
Kini, lima tahun setelah kami berjalan keluar dari gerbang sekolah untuk terakhir kalinya, perasaan itu masih ada di sini. Tersimpan rapi dalam sebuah kotak di sudut hati yang paling sunyi. Kami tidak bersama, tidak ada status yang mengikat, tapi namanya tetap menjadi satu-satunya yang kutulis dalam setiap baris doa.
Aku membuka sebuah folder lama di ponselku. Ada foto kami berdua saat kelulusan. Kami berdiri bersisian, tersenyum ke arah kamera, tapi ada jarak satu jengkal di antara tangan kami yang sebenarnya ingin saling menggenggam.
"Waktu mungkin mampu menutup gerbang sekolah, tapi ia tak pernah benar-benar bisa mengunci rapat ingatan tentang aroma koridor dan sebuah nama yang tak sempat menetap."
Bab 2: Pelukan yang Tak Memiliki Nama
Di sekolah dulu, semua orang punya asumsi yang sama tentang kami. Teman-teman sekelas, guru-guru, bahkan penjaga warung yang sering kita kunjungi setiap jam istirahat menggoda, "Kalian kapan resmi pacaran nya?". Kami hanya akan tertawa, menepisnya dengan candaan ringan, lalu kembali ke posisi masing-masing. Kami terlalu takut untuk mengiyakan, tapi terlalu nyaman untuk menjauh. Gengsi adalah dinding tertinggi yang kami bangun bersama.
Aku ingat di bulan desember itu yang selalu musim hujan di bangku belakang kelas, saat turun hujan deras di luar jendela seolah pindah ke dalam dadaku. Aku sedang merasa kacau—mungkin karena urusan rumah, atau mungkin karena rasa cemas tentang masa depan yang tidak pasti. Aku hanya menunduk, menumpu kepala di atas lipatan tangan di meja.
Tiba-tiba, aku merasakan kehangatan yang menjalar. Tanpa suara, dia datang dan melingkarkan lengannya dari belakang, memelukku erat. Kepalanya bersandar di bahuku.
"dree, jangan sedih terus. Kamu hebat, tahu," bisiknya pelan. Suaranya adalah satu-satunya penyemangat yang tidak pernah gagal menenangkan badai di kepalaku.
Saat itu, jantungku berdegup kencang. Harusnya itu adalah momen yang tepat untukku berbalik, memegang tangannya, dan mengatakan: "Aku mencintaimu, jangan pergi." Tapi lagi-lagi, si pengecut dalam diriku menang. Aku hanya diam menikmati kehangatan itu, membiarkan pelukannya menjadi obat tanpa pernah berani memberinya label "cinta".
Kami sama-sama tahu. Getaran itu ada, perhatian yang lebih dari sekadar teman itu nyata. Namun, kami terjebak dalam permainan siapa yang akan bicara duluan. Kami lebih memilih menjaga harga diri daripada menjaga hati satu sama lain. Kami merasa dengan tidak menyatakan perasaan, kami tidak akan pernah kehilangan.
Padahal, dengan tetap diam, kami justru sedang kehilangan satu sama lain secara perlahan.
Kini, lima tahun kemudian, aku sering bertanya-tanya pada segelas air putih di hadapanku: Apakah dia masih ingat hangatnya pelukan itu? Ataukah dia sudah menemukan bahu lain untuk bersandar, seseorang yang tidak punya gengsi setinggi aku dulu?
"Kita adalah dua pengembara yang saling menghangatkan di tengah badai, namun terlalu angkuh untuk saling bertanya: 'Siapakah kita bagi satu sama lain?'"
Bab 3: Benang Merah dari Bayah
Namanya Putri Melya Safira Melasari
.
Sebuah nama yang awalnya asing di telingaku, namun perlahan menjadi satu-satunya nama yang paling sering bergema di pikiranku. Hari itu, dia berdiri di depan kelas sebagai murid pindahan dari SMA BAYAH. Aku memperhatikannya dari bangku belakang, mengira dia adalah pendatang baru yang tidak tahu apa-apa tentang hiruk-pikuk sekolah ini.
Namun, dugaanku meleset jauh.
"Lho, Melya? Kamu yang dulu di SMP sini juga, kan?" seru salah satu temanku dari bangku depan.
Aku tertegun. Syok. Ternyata dia bukan orang asing. Dia adalah bagian dari masa lalu tempat ini yang baru kembali pulang. Teman-temanku yang lain mulai riuh, menyapanya seolah dia adalah kawan lama yang baru kembali dari perantauan. Ternyata dia mengenal mereka lebih dulu daripada aku mengenalnya.
Ada sesuatu yang berdesir di dadaku saat melihat cara dia tersenyum dan menanggapi sapaan teman-temanku. Siapa ya dia sebenarnya? Kenapa kehadirannya terasa begitu memenuhi ruang di kepalaku? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai mengetuk pintu hatiku yang selama ini tertutup rapat.
Dan yang paling tidak kusangka, dialah yang memulai semuanya.
Saat jam istirahat pertama, di tengah keramaian kelas, dia berjalan ke arah bangkuku. Aku berpura-pura sibuk dengan bukuku, berusaha menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.
"Hai, aku Putri Melya Safira Melasari," ucapnya sambil mengulurkan tangan. Senyumnya begitu tulus, jenis senyum yang bisa membuat siapa saja merasa nyaman dalam hitungan detik. "Kamu Dreeko, ya?"
Aku mendongak, menjabat tangannya yang hangat. "Iya, Dreeko," jawabku singkat, berusaha terdengar biasa saja meski di dalam hati ada kembang api yang meledak pelan.
Itulah titik nol. Titik di mana kisah asmara yang "tak kunjung temu" ini dimulai. Dari sebuah jabatan tangan dan perkenalan singkat yang kemudian berkembang menjadi pelukan-pelukan penyemangat saat aku galau, hingga akhirnya menjadi rahasia terbesar yang kita simpan masing-masing selama lima tahun ini.
"Terkadang, orang asing bukanlah orang baru, melainkan potongan masa lalu yang kembali datang untuk menguji sejauh mana pintu hati kita telah terbuka."
Bab 4: Melodi di Antara Jam Kosong
Setelah perkenalan itu, tembok di antara kami runtuh dengan cepat. Jam kosong menjadi waktu favoritku, bukan karena bebas dari pelajaran, tapi karena itu artinya aku bisa duduk di bangku belakang kelas bersamanya. Kami bicara tentang apa saja—tentang sekolahnya di Bayah, tentang teman-teman kami yang ternyata sama, hingga hal-hal tidak penting yang membuat kami tertawa sampai lupa waktu.
Aku ingat suatu siang, aku sedang berada di lapangan. Peluh membasahi kaos olahragaku saat aku mengejar bola. Di tengah permainan, mataku secara tidak sadar terlempar ke arah jendela kelas ku yang aku lihat sudah terbuka.
Di sana, di balik bingkai jendela itu, Mellya sedang duduk menopang dagu. Dia memperhatikanku. Saat mata kami bertemu, dia tidak memalingkan wajah, malah memberikan senyum kecil yang membuat fokusku pada bola buyar seketika. Rasanya seperti sedang ditonton oleh seluruh dunia, padahal hanya ada dia di jendela itu.
Namun, momen yang paling melekat di ingatan—dan yang paling kurindukan sampai detik ini—adalah saat gitar tuaku berpindah ke pangkuanku.
Gitar tua ini aku beli dari seorang kakak kelas, yang konon sebelumnya pernah menemani langkah pengamen di sudut-sudut Sukabumi. Kondisinya mungkin apa adanya, tapi bagiku, sejarah panjangnya membuat gitar ini tak ternilai. Daripada memetik senar gitar baru yang terasa 'dingin', aku lebih memilih kayu tua yang sudah punya nyawa dan sarat akan pengalaman ini."
Kami duduk berdekatan di pojok kelas yang sepi. Aku mulai memetik senar, mencari nada yang pas, dan dia mulai mengambil napas untuk bernyanyi. Suaranya lembut, mengisi celah-celah kosong di ruangan itu.
“Maafkan aku jadi suka sama kamu Awalnya curhat lama-lama ku cemburu.... Maafkan aku yang mengharapkan cintamu.. Bila belum saatnya kusabar menunggu Bila masih bersama kutunggu kau putus”
Suara Melya mengalun mengikuti petikan gitarku. Lagu Sheryl Sheinafia itu bergema, terasa begitu nyata dan menyentil keadaan. Aku menatap jemariku di atas senar, tak berani menatap matanya karena aku tahu maknanya terlalu dalam.
Seorang teman sekelas pernah membisikkan kenyataan yang pahit padaku: "Melya sudah punya pacar, Dree."
Jadi, ketika kami menyanyikan lagu itu bersama, ada tanya yang berteriak di dalam kepalaku. Apakah dia menyanyikannya karena dia suka lagunya? Ataukah itu caranya memberitahuku bahwa ada sesuatu yang salah dengan hubungannya di luar sana?
Aku hanya bisa memetik gitar lebih dalam, menyembunyikan harapanku di balik melodi. Kami saling tahu, kami saling rasa, tapi statusnya dan gengsiku adalah dua jangkar yang menahan kami untuk tetap diam di tempat yang sama. Kami mencintai dalam harmoni yang tidak akan pernah menjadi sebuah lagu yang utuh.
"Gitar tua dan suara lembutmu adalah harmoni yang paling indah, namun sekaligus paling pilu, karena kita menyanyikan tentang 'menunggu putus' di saat kita sendiri tak pernah memulai."
Bab 5: Ambang Batas yang Kupasang Sendiri
Rasa penasaran itu akhirnya menang. Di suatu sore yang terasa lebih sunyi dari biasanya, aku memberanikan diri menanyakan hal yang selama ini menghimpit dadaku.
"Mel, kamu... sebenarnya sudah punya pacar, ya?"
Melya terdiam sejenak. Dia menatap ke arah lapangan yang mulai gelap, lalu mengangguk pelan. "Sudah, Dree."
Ada jeda panjang sebelum dia melanjutkan dengan suara yang hampir berupa bisikan. "Tapi aku nggak mencintainya lagi. Aku ingin putus."
Mendengar itu, jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Ada lega yang menyelinap, namun diikuti oleh rasa sesak yang lebih besar. Setiap kali aku mencoba bertanya lebih jauh tentang hubungannya—ingin tahu apa yang salah atau bagaimana kabar pacarnya—dia selalu menjawab dengan "nggak tahu" yang dingin. Dia menutup rapat pintu itu, seolah tidak ingin aku masuk terlalu jauh ke dalam kerumitannya.
Tapi aku bukan orang yang tega membangun kebahagiaan di atas reruntuhan hubungan orang lain. Ibuku selalu bilang, jangan pernah mengambil apa yang bukan milikmu. Maka, dengan berat hati, aku mulai membangun jarak.
"Oalah, gitu ya," jawabku sambil berusaha tersenyum, meski rasanya hambar.
Sejak hari itu, aku mulai membatasi diri. Aku yang biasanya selalu ada di dekatnya saat jam kosong, mulai mencari-cari alasan untuk pergi ke kakantin atau sekadar bergabung dengan teman-teman laki-laki main bola. Aku membatasi percakapan kami agar tidak terlalu dalam.
Aku melakukannya bukan karena rasa itu hilang. Justru karena rasa itu terlalu besar, sehingga aku takut jika aku tetap sedekat dulu, aku akan lupa diri dan merebutnya secara paksa. Aku memilih untuk menjaga kehormatanku dan menghargai statusnya, meski itu artinya aku harus menahan rindu yang semakin mencekik setiap kali melihatnya duduk sendirian di bangku belakang kelas, menungguku yang tak kunjung datang.
"Mencintai adalah tentang memberi ruang, tapi menghargai adalah tentang tahu kapan harus menarik diri sebelum kita meruntuhkan rumah orang lain."
Bab 6: Pecahnya Keheningan di Selasar
Perubahan sikapku ternyata tidak bisa kusembunyikan selamanya. Dia merasakannya. Dia menyadari setiap inci jarak yang sengaja kubuat. Hingga akhirnya, di sebuah selasar kelas yang sepi, dia menghentikan langkahku.
"Dree, kenapa kamu berubah?" tanyanya. Matanya menatapku tajam, ada luka yang tersirat di sana. "Nggak seperti biasanya. Ada yang salah dari aku?"
Aku membuang muka, tak sanggup menatap matanya yang basah. "Ini bukan salah kamu, Mel. Ini salah aku. Salah aku karena... terlalu berharap."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Jujur dan menyakitkan.
Namun, jawaban Melya justru membuat duniaku serasa berhenti berputar.
"Kamu nggak salah, Dree," ucapnya pelan namun tegas. "Karena aku... aku juga berharap."
Keheningan menyergap kami. Pengakuan itu seharusnya menjadi akhir yang bahagia, tapi bagiku, itu adalah awal dari kerumitan baru. Hatiku berteriak ingin memeluknya, tapi logikaku menampar keras.
"Nggak bisa gini, Mel," kataku dengan suara yang bergetar. "Kamu sudah punya pacar. Aku nggak mau jadi orang yang merusak itu."
Wajah Melya berubah. Kecewa, marah, dan sedih bercampur menjadi satu. Dia merasa kejujurannya barusan tidak dihargai, atau mungkin dia merasa aku terlalu pengecut untuk memperjuangkannya.
"Yaudah kalau maunya gini!" serunya dengan nada tinggi yang jarang kudengar. "Kalau mau terus diemin aku, silakan!"
Dia berbalik dengan cepat, langkah kakinya menghentak keras di lantai selasar saat dia berjalan kembali ke kelas. Dia pergi meninggalkanku yang masih terpaku di sana, berdiri sendirian dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Itu adalah pertama kalinya aku melihatnya semarah itu, dan itu adalah pertama kalinya aku merasa bahwa kejujuran terkadang bisa lebih menyakitkan daripada kebohongan.
"Kejujuran seringkali datang seperti badai; ia membersihkan debu keraguan, namun terkadang meninggalkan puing-puing luka yang sulit dirangkai kembali."
Bab 7: Pura-Pura Asing
Aku berdiri di ambang pintu kelas dengan jantung yang masih berdegup tidak keruan. Untuk masuk secara terang-terangan rasanya sangat canggung, maka aku mencari alasan yang paling klasik: mengambil pulpen di bangku belakang.
Langkahku pelan, hampir tak terdengar. Saat aku sampai di dekat bangkunya, hatiku mencelos. Melya sedang menunduk, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan lengan yang ia jadikan bantal di atas meja. Bahunya diam, tidak ada isakan yang terdengar, tapi suasana di sekitarnya terasa begitu berat.
Aku berdiri di sana selama beberapa detik, tanganku tertahan di atas meja, ingin sekali mengusap rambutnya atau sekadar berbisik minta maaf. Namun, ego dan prinsipku kembali menarik tanganku mundur. Aku mengambil pulpenku dengan kaku dan segera keluar tanpa sepatah kata pun. Aku tidak tahu dia menangis atau tidak, tapi diamnya dia lebih menyakitkan daripada makian apa pun.
Setelah hari itu, segalanya berubah total.
Kami menjadi dua orang asing yang kebetulan berada di satu ruangan yang sama. Tidak ada lagi obrolan di belakang kelas saat jam kosong. Tidak ada lagi petikan gitar yang mengiringi suaranya. Bahkan untuk sekadar berpapasan di pintu pun, kami saling membuang muka.
Perubahan itu begitu drastis hingga teman-teman sekelas mulai berbisik.
"Lho, Dree sama Melya kenapa? Kok kayak nggak kenal?"
"Biasanya nempel terus, sekarang kok jauh-jauhan?"
Kami mendengarnya, tapi kami tetap pada pilihan masing-masing. Aku dengan prinsipku yang tidak ingin merebut milik orang, dan dia dengan kekecewaannya yang mendalam. Kami sama-sama terluka oleh perasaan yang sebenarnya sama-sama kami miliki. Sekolah yang tadinya terasa seperti rumah, kini berubah menjadi tempat yang asing dan penuh dengan kebisuan yang menyiksa.
ini adalah fase yang paling "gelap" dalam cerita ini. Biasanya, dalam novel, setelah fase diam-diaman ini akan ada satu momen besar yang memaksa kita untuk bicara lagi—entah itu tugas kelompok, kejadian mendadak, atau momen kelulusan yang sudah di depan mata. Tapi ini beda bukan seperti yang biasa
"Tak ada jarak yang lebih jauh daripada dua orang yang duduk dalam satu ruangan, namun saling membuang muka demi menjaga harga diri yang sebenarnya sedang terluka."
Bab 8: Sejengkal yang Akhirnya Terhapus
Seminggu berlalu seperti satu tahun. Kebisuan itu menyiksa, hingga pada suatu pagi, semuanya pecah oleh suara yang sangat kurindukan.
"Dreko! Dreko!"
Aku menoleh dan mendapati Melya berlari kecil menghampiriku. Tidak ada lagi gurat marah atau wajah tertunduk. Wajahnya cerah, matanya berbinar dengan binar yang sudah lama tidak kulihat.
"Dree, aku sudah putus," ucapnya hampir tanpa napas.
Aku terpaku di tempat. Rasanya seperti ada beban berat yang diangkat dari bahuku, tapi aku berusaha tetap tenang. "Lho, kok bisa? Kenapa putus?"
Melya cemberut kecil, tapi bibirnya masih menyunggingkan senyum. "Emang kenapa? Kamu nggak suka kalau aku putus?"
"Ya suka... eh, maksudku, seriusan kamu putus? Bukan karena aku, kan?" tanyaku ragu, takut jika akulah alasan di balik kehancuran hubungan orang lain.
Melya hanya tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat merdu. "Ada deh, pokoknya!" jawabnya rahasia.
Sejak saat itu, mendung di antara kami menghilang. Kami kembali menjadi "dua orang yang paling dekat", mengisi jam-jam kosong di belakang kelas atau duduk berdua di sudut sekolah yang sepi. Tawanya kembali mengisi hariku, dan keberanianku pun mulai tumbuh.
Suatu sore, saat kami sedang duduk berdampingan, suasana menjadi sangat tenang. Jarak di antara tangan kami di atas bangku kayu itu hanya tinggal beberapa sentimeter. Aku bisa merasakan hangat kulitnya. Dengan jantung yang berdegup kencang—jauh lebih kencang daripada saat aku mencetak gol di lapangan—aku memberanikan diri.
Perlahan, aku menggeser tanganku dan meraih jemarinya.
Untuk pertama kalinya, aku merasakan tangannya yang lembut menyatu dengan tanganku. Melya tidak menarik tangannya. Dia justru membalas genggamanku, mengunci jemarinya di antara jemariku. Kami tidak saling menatap, kami berdua hanya menatap lurus ke depan dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.
Dunia seolah berhenti berputar. Tidak perlu ada kata-kata puitis saat itu. Genggaman tangan itu sudah menceritakan segalanya: bahwa penantian ini, gengsi ini, dan segala keraguan ini akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat.
"Semesta selalu punya cara untuk menyatukan jemari yang sempat ragu, meyakinkan bahwa setiap penantian akan menemukan titik istirahatnya."
Bab 9: Di Balik Tirai Hujan
Hujan turun deras siang itu, mengubah lapangan sekolah menjadi hamparan air yang kelabu. Suara rintiknya yang menghantam atap seng menciptakan irama monoton yang menenangkan. Aku berdiri di dekat jendela kelas, menempelkan dahi ke kaca yang mulai berembun, hanyut dalam lamunan sendiri.
Tiba-tiba, sebuah bayangan mendekat. Aroma parfum yang sudah sangat kukenal itu menyeruak di antara aroma tanah basah.
"Kenapa, Dree?" tanya Melya lembut. Dia berdiri tepat di sampingku, ikut menatap ke luar jendela.
Aku menoleh sedikit, mendapati wajahnya yang tampak begitu tenang terpantul di kaca. "Enggak ada apa-apa. Aku cuma senang saja kalau hujan turun. Kamu senang juga enggak?"
Melya tersenyum, lalu mengangguk pelan. "Senang juga," jawabnya singkat.
Kami tidak melanjutkan pembicaraan. Kami hanya berdiri di sana, sangat dekat—begitu dekat hingga aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya di tengah udara kelas yang mulai mendingin. Kami saling memperhatikan butiran air yang merayap turun di kaca, seolah-olah setiap tetesnya membawa pergi kerumitan yang pernah ada di antara kami.
Dulu, hujan mungkin terasa menyedihkan karena aku merasa sendirian. Namun saat itu, hujan terasa seperti pelindung. Seolah-olah dunia di luar sana sengaja dikaburkan agar hanya ada aku dan dia di ruangan ini. Tidak ada beban tentang "pacar orang", tidak ada lagi dinding gengsi yang tebal. Hanya ada dua orang yang saling jatuh cinta, menikmati keheningan yang paling jujur yang pernah kami miliki.
Genggaman tangan yang kami mulai beberapa hari lalu kembali terjalin secara otomatis. Di balik riuhnya suara hujan, hati kami bicara lebih keras dari sebelumnya. Kami tidak butuh janji-janji romantis yang muluk; cukup dengan berdiri bersisian seperti ini, aku merasa segalanya sudah cukup.
"Hujan tak pernah salah, ia hanya cara bumi menyembunyikan air mata kita agar dunia hanya tahu bahwa kita sedang bahagia dalam keheningan."
Bab 10: Sebuah Nama dan Sebuah Kepastian
Di sekolah, orang-orang lebih sering memanggilnya Putri Melya Safira Melasari. Atau sebutan safira Nama yang terasa lebih lembut dan Indonesia, sangat pas dengan kepribadiannya yang hangat. Bagiku, memanggilnya Melya terasa seperti memiliki kode khusus, meski semua orang memanggilnya berbeda dengan ku.
Suatu hari, teman sebangkuku—si biang gosip yang sebenarnya sangat peduli—menyenggol lenganku saat kami sedang pura-pura memperhatikan guru di depan.
"Dree, kamu beneran pacaran sama si safira?" tanyanya berbisik.
Aku terdiam sejenak. “siapa safira” dan dia pun langsung menyebutkan dengan tegas safira itu yang nama panjangnya nama nya itu Putri Melya Safira Melasari , yang kamu sering panggil Melya. Aku ingin bilang iya, tapi kenyataannya kami belum pernah meresmikan apa pun. "Enggak," jawabku singkat, meski hati kecilku meronta.
Seorang teman lain yang duduk di depan kami ikut menoleh dan berbisik dengan nada yang lebih serius. "Dree, kalau mau pacaran mending langsung deh. Daripada nanti ada orang lain lagi yang masuk, atau ada yang tiba-tiba nembak si Melya. Kamu tahu kan dia manis? Jangan sampai menyesal."
Kalimat itu seperti hantaman keras di kepalaku. Jangan sampai menyesal.
Aku tersadar sejenak. Aku teringat bagaimana perjuanganku menahan diri saat dia masih punya pacar dulu. Sekarang, saat jalannya sudah terbuka lebar, apakah aku akan membiarkan gengsi atau keraguanku menghancurkan segalanya lagi? Aku tidak mau dia direbut orang lain hanya karena aku terlalu lambat untuk bicara.
Semenjak percakapan itu, pikiranku tidak tenang. Setiap kali aku menatap Melya yang sedang tertawa di belakang kelas, ada kalimat yang sudah mengumpul di ujung lidahku: "Maukah kamu jadi pacarku?"
Aku hanya tinggal menunggu momen yang tepat. Bukan di tengah keramaian kelas, bukan saat jam pelajaran. Aku ingin sebuah momen di mana hanya ada aku, dia, dan kejujuran yang tidak lagi tertahan. Sebuah momen yang akan menentukan, apakah kami akan melangkah keluar dari gerbang sekolah sebagai "kita", atau tetap sebagai dua orang yang saling mencintai namun tak pernah bertemu dalam satu ikatan
"Seringkali kita kehilangan kesempatan bukan karena kurangnya cinta, tapi karena terlalu lambat mengubah rasa menjadi sebuah kata kepastian."
Bab 11: Senin Pagi dan Dasi yang Hilang
Senin pagi selalu menjadi hari yang paling sibuk sekaligus paling mendebarkan di sekolah. Semua orang tampak terburu-buru, merapikan kerah baju, memastikan atribut lengkap, dan memastikan tidak ada yang tertinggal karena bayangan hukuman dari guru piket sudah menunggu di gerbang.
Aku masuk ke kelas dengan gaya santaiku yang seperti biasa. Seragamku tidak serapi yang lain, dan yang paling mencolok: aku tidak memakai dasi sekolah. Entah tertinggal di rumah atau memang sengaja kusimpan di dalam tas, aku tidak terlalu peduli.
Namun, langkahku terhenti saat melihat seseorang sudah duduk manis di sana.
"Morning, Dree!" sapa Melya. Bibirnya menyunggingkan senyum pagi yang lebih hangat daripada sinar matahari di luar. "Ayo bareng ke lapangan, taruh tasnya dulu."
Kami berjalan beriringan menuju lapangan sekolah. Di tengah riuhnya murid-murid yang berlarian menuju barisan, kami berjalan dalam ritme kami sendiri. Di saat semua orang takut akan hukum, aku merasa tenang hanya karena dia ada di sampingku.
Saat upacara dimulai, aku mengambil posisi aman: barisan kedua dari belakang. Posisi strategis agar atributku yang tidak lengkap ini tidak tertangkap mata tajam guru yang berkeliling. Tapi, ada satu pasang mata yang tidak bisa kuhindari.
Melya menoleh sedikit ke arahku dari barisannya yang tidak jauh. Dia berbisik pelan, cukup untuk kudengar sendiri. "Kenapa sih suka nggak lengkap kalau mau upacara? Nanti dihukum lagi, lho. Kamu itu nggak pernah kapok ya?"
Aku hanya membalasnya dengan cengiran tipis. "Kan ada kamu yang jagain," jawabku asal, yang sukses membuatnya menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil.
Sepanjang upacara yang membosankan itu, pandanganku tidak benar-benar tertuju pada inspektur upacara di depan. Mataku terus mencuri pandang ke arah wajahnya. Bagaimana cahaya matahari pagi mengenai pipinya, bagaimana dia sesekali merapikan topinya—semuanya tampak seperti sebuah pemandangan yang tak ingin kulewatkan.
Di balik ketegangan upacara dan risiko hukuman yang mengintai, aku justru merasa bahagia. Di barisan belakang itu, aku menyadari satu hal: aku tidak peduli jika harus dihukum oleh guru, asalkan setelahnya, dialah yang akan pertama kali menghampiriku dan mengomel dengan penuh perhatian seperti tadi.
"Di antara barisan upacara yang kaku, perhatian kecilmu adalah satu-satunya aturan yang dengan senang hati selalu ingin kulanggar."
Bab 12: Kabar dari Tegallumbu
Hukuman memungut sampah sebenarnya bukan masalah besar bagiku. Aku hanya menjalaninya sebentar sebagai formalitas, lalu dengan licin menyelinap kembali ke kelas saat pengawasan lengah. Namun, ketenangan yang baru saja kudapatkan itu langsung hancur saat aku menginjakkan kaki di kelas.
Melya tidak ada di bangkunya; dia sedang ke kantor guru untuk mengambil tugas kelas. Di saat itulah, teman dekatku menghampiri dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Dree," bisiknya dengan nada serius. "Kemarin aku lihat Melya dibonceng sama Yungga."
Duniaku seolah berhenti berputar. "Yungga mana?" tanyaku, berusaha menetralkan suara meski dadaku mulai bergemuruh.
"Yungga Tegallumbu, Dree. Kamu juga tahu, kan?"
Mendengar nama itu, emosiku langsung naik ke ubun-ubun. Yungga Tegallumbu. Ada rasa panas yang menjalar di dada, bukan karena aku membenci Yungga, tapi karena rasa tidak percaya. Kenapa Melya? Kenapa harus dia? Bukankah kita baru saja berpegangan tangan? Bukankah dia bilang sudah putus?
Rencana indah yang kusisipkan di kantong untuk menyatakan cinta hari itu langsung layu. Aku merasa konyol karena sudah terlalu berharap. Aku pun memutuskan untuk mengulur waktu, atau mungkin membatalkan semuanya.
Tak lama kemudian, Melya kembali ke kelas dengan tumpukan buku di tangannya. Dia tersenyum padaku, senyum yang sama seperti saat upacara tadi. "Dree, untung kamu sudah balik, kirain masih dihukum," ucapnya ringan.
Aku hanya mengangguk kaku. Aku berpura-pura tidak tahu tentang kabar "Yungga" itu, namun sikapku tidak bisa berbohong. Aku menjadi sangat irit bicara. Tawaku yang biasanya lepas kini tertahan, dan setiap kali dia mendekat, aku secara tidak sadar menarik diri. Ada dinding tinggi yang kembali kubangun, kali ini bukan karena gengsi, tapi karena rasa sakit hati yang belum sempat kupastikan kebenarannya.
"Kabar burung seringkali lebih tajam dari sembilu, merobek kepercayaan yang baru saja dijahit oleh hangatnya genggaman tangan."
Bab 13: Kebenaran yang Terbelah
Aku tidak bisa terus-terusan berada dalam ketidakpastian yang membunuh. Maka, saat Melya sedang tidak ada di sekitar, aku menghampiri Sasmita. Dia adalah teman terdekat Melya yang paling tahu segalanya.
“Dan dia yang tadi menanyakan aku sudah pacaran belum sama Melya.
"Sas, jawab jujur ya. Melya sebenarnya sudah punya pacar lagi atau belum?" tanyaku dengan suara rendah, berusaha menahan debar jantung yang tak menentu.
Sasmita menatapku sebentar, seolah sedang menimbang apakah dia harus bicara atau tidak. "Kalau sekarang sih secara resmi belum ada, Dree. Dia kan baru saja putus sama Yadi."
Aku baru tahu nama mantannya itu: Yadi. Tapi yang membuatku semakin sesak adalah kalimat Sasmita selanjutnya.
"Tapi, Melya memang lagi dekat sama yungga. Yang kemarin boncengan itu benar, mereka habis jalan bareng."
Duniaku rasanya runtuh. "Sejak kapan, Sas?"
"Ternyata sudah lama, Dree. Cuma mereka nggak publish saja, ya sama kyk kamu sama Melya. Waktu Melya masih pacaran sama Yadi pun, dia sebenarnya sudah mulai dekat sama Yungga," Melya bicara tanpa ekspresi, tapi setiap katanya seperti sembilu. "Saran aku ya, Dree... sudahlah, jauhi Melya saja. Nggak bakal jadi beneran kalau begini ceritanya."
Aku terdiam, membeku di tempat. Ada rasa bingung yang luar biasa. Di satu sisi, aku berterima kasih karena Sasmita memberitahuku sebelum aku melangkah terlalu jauh untuk menyatakan cinta. Tapi di sisi lain, aku bertanya-tanya: Kenapa dia menyuruhku menjauh seolah-olah aku sama sekali tidak punya harapan? Apakah dia bicara demi kebaikanku, atau dia sebenarnya sedang menutup jalanku?
Kini, setiap kali aku melihat Melya tersenyum padaku, aku tidak lagi melihat kehangatan yang sama. Aku hanya melihat bayangan Yugga di sampingnya. Aku melihat seorang perempuan yang sanggup berbagi hati saat masih terikat janji dengan orang lain.
“Ya sebenarnya bebas bebas aja sih selama belum ada ikatan, dan mungkin pikiran aku sudah terlalu jauh dan menganggap itu sudah titik terakhir dan tinggal nyatakan Cinta saja”..
Hati yang tadinya ingin terbuka lebar untuk menyatakan cinta, kini menciut dan penuh lubang keraguan. Apakah aku hanya pelarian saat dia bosan dengan Yungga, ataukah semua perhatiannya selama ini—termasuk Senyuman dan ucapan selamat pagi itu—hanya sandiwara belaka?
"Mencari kebenaran melalui lisan orang lain adalah cara tercepat untuk meracuni hati sendiri."
Bab 14: Siapa Pemenangnya?
Aku merasa dikepung. Kabar dari teman sebangkuku membuat segalanya menjadi jernih namun menyakitkan. Ternyata, Yungga—seorang alumni yang sudah dua tahun lulus dari sekolah ini "Dan mungkin banyak teman dan mata mata" di dalam kelasku sendiri. Sasmita pun mendukung karena ada ikatan saudara, dan Robi adalah orang yang sengaja membukakan pintu untuk Yungga masuk ke kehidupan Melya.
Sedikit membahasa tentang Robi,
Robi ini teman dekatnya Yungga dan dia juga yang menjodohkan Melya dengan Yungga , ada satu sisi Robi ini teman aku juga di kelas tapi kami belum cukup lama berteman , karena Robi dan Yungga itu satu kampung dan rumahnya berdekatan, sedangkan aku baru saja mengenal Robi hanya di sekolah , dan aku pun mengenal Yungga hanya sekilas, karena ada di beberapa momen , aku pergi ke rumah sodaraku yang kebetulan Robi dan Yungga ada di situ juga dan banyak lagi orang orang yang baru aku temui ,dan mungkin di sini aku ga bahas orang orang yang baru aku temui karena ini bukan judulnya mereka , dan balik lagi ke momen tadi dan ketebulan Robi dan Yungga ada di rumah sodaraku dan memang mereka juga berteman sudah sejak lama karena satu angkatan , di situlah aku mengenal Yungga, sebelum mengenal Yungga dekat dengan Melya.
Dan kita balik lagi ke pembicraan tadi..
Aku tidak tahan lagi. Kebenaran yang setengah-setengah ini lebih menyiksa daripada penolakan. Saat jam istirahat, aku menarik Melya ke sudut yang agak sepi.
"Mel, jujur sama aku. Apa benar kamu pacaran sama Yungga?" tanyaku langsung, tanpa basa-basi.
Melya tampak terkejut. Matanya membulat. "Enggak, Dree. Kata siapa? Yungga cuma teman saja," jawabnya dengan nada yang terdengar tulus.
Aku tersenyum getir. "Teman? Teman kok sampai main boncengan seromantis itu?"
"Enggak gitu ceritanya, Dree. Dia memang sudah dekatin Melya bahkan sebelum kamu datang. Tapi Melya anggap dia teman, serius. Melya cuma nggak enak saja waktu dia ajak main, jadi susah nolak," jelasnya berusaha meyakinkanku.
Aku menatapnya dalam, mencoba mencari kebohongan di matanya. "Terus sekarang kalau gini, Melya pilih siapa?"
"Pilih apa, Dree?"
"Pilih aku... atau Yugga?"
Melya terdiam sejenak. Wajahnya tampak bingung dan tertekan. "Ya nggak gitu juga, Dree. Biarkan waktu yang jawab saja siapa pemenangnya. Melya juga mau kok kalau diajak main sama kamu..."
Mendengar jawaban "biarkan waktu yang menjawab", rasanya seperti dipukul telak. Aku tidak butuh kompetisi. Aku tidak butuh menjadi pemenang dalam sebuah perlombaan hati. Dan mungkin maksud Melya karena aku dan Melya baru saja kenal dan mungkin Melya masih butuh waktu pendekatan dengan waktu yang cukup agak lama.
"Enggak usah, Melya. Mendingan kamu sama Angga saja. Dia lebih banyak dukungannya di kelas ini, kan? Ada Sasmita, ada Robi. Mereka pasti senang kalau kamu sama dia," kataku dengan nada dingin yang dipaksakan. "Enggak apa-apa, Mel. Sama Yungga saja."
"Kok gitu sih, Dree?" suara Melya mulai bergetar.
Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Tanpa menunggu jawabanku lagi, dia berbalik dan lari menuju bangkunya, dan langsung menenggelamkan wajahnya dengan tumpuan tangan nya yang dia jadikan bantal di sana sambil terisak. Aku berdiri mematung di tengah kelas, merasa seperti pemenang yang kalah. Aku berhasil memaksanya jujur, tapi aku juga berhasil menghancurkan momen yang selama ini kami bangun.
"Dalam perlombaan hati, tak pernah ada pemenang jika pialanya adalah air mata orang yang kita cintai."
Bab 15: Mata-Mata di Balik Koridor
Setelah hari di mana aku menyuruhnya memilih Yungga, suasana di antara kami menjadi sangat aneh. Kami tidak benar-benar menjauh, tapi juga tidak bisa kembali sedekat dulu. Kami masih saling mencinta, rasa itu masih terasa kuat setiap kali mata kami bertemu, namun ada canggung yang luar biasa setiap kali kami ingin memulai percakapan.
Aku tetap menjadi Dreko yang santai, namun sebenarnya radarku mulai menangkap ada yang tidak beres di lingkungan sekolah.
Suatu hari, seorang teman beda angkatan—kakak kelas dua jurusan ipa ,yang cukup akrab denganku—menarikku ke pinggir lapangan saat jam istirahat.
"Dree, kamu harus hati-hati," bisiknya dengan raut wajah serius.
Aku mengernyitkan dahi. "Hati-hati kenapa? Masalah atribut upacara lagi?"
"Bukan. Ini soal Melya," jawabnya. "Tanpa kamu sadari, ada dua orang perempuan kakak kelas jurusan ipa , ips, sedang mengincar mu cari cari informasi tentang mu, mungkin mereka suka , karena melya itu udah jadi bahan obrolan kaka kelas lain ,aku kurang tau pasti—yang lagi mengawasi gerak-gerikmu secara diam-diam. Mereka sepertinya nggak suka melihat kamu dekat sama Melya."
Jantungku berdegup kencang. Ternyata kabar tentang kedekatanku dengan Melya sudah sampai ke telinga orang-orang yang lebih senior. Mungkin ini ada hubungannya dengan jaringan yungga pikir aku, si alumni Tegallumbu itu. Atau si Robi dan bisa juga si Sasmita. Tapi aku ga terlalu peduli.
"Kamu tahu dari mana?" tanyaku.
"Semua orang di kelas sudah mulai bisik-bisik, Dree. Bahkan... sebenarnya Melya sudah tahu soal ini sebelum aku kasih tahu kamu."
Aku tertegun. Jadi itu alasan kenapa Melya belakangan ini tampak lebih gelisah dan sering mencuri pandang ke arah pintu kelas? Dia sudah tahu bahwa aku sedang dalam incaran, tapi dia memilih diam, mungkin karena dia takut situasinya semakin panas setelah pertengkaran kami terakhir kali.
Aku menoleh ke arah kelas dari kejauhan. Di sana, di balik jendela tempat kami dulu sering melihat hujan bersama, aku menyadari bahwa cinta ini bukan lagi sekadar urusan aku dan dia. Ada tekanan dari teman-teman sekelas, ada bayang-bayang alumni, dan sekarang ada ancaman nyata dari kakak kelas yang mulai mengintai.
Dan aku kurang tau pasti ancaman apa cuman aku sempat ingat Melya pernah bilang , aku takut kalau ke kantin sendirian tanpa di temani, dan aku takut kalau lewat ruangan kelas, kaka kaka kelas kalau di suruh sama guru ngambil tugas kelas di kantor guru.
Aku merasa seperti sedang berdiri di tengah medan perang sendirian, sementara orang yang kucintai berdiri di seberang sana, ingin menolong tapi terhalang oleh rasa cemburu dan emosional yan telah terjadi yang sedang kami jalani,
"Cinta remaja tak pernah benar-benar hanya milik dua orang; ia selalu diramaikan oleh bisik-bisikan orang yang terkadang menghancurkan."
Bab 16: Cemburu yang Berkedok Canda
Ternyata, dugaan teman ku bilang selama ini benar membuktikan Dua "mata-mata" dari kaka kelas itu bukanlah pesuruh yungga yang ingin melabrak melya melainkan dua kakak kelas perempuan yang ternyata menaruh hati padaku. Kabar ini menyebar cepat, dan entah bagaimana, Melya sudah mengantongi informasi itu lebih dulu daripada aku.
Situasi yang tadinya tegang karena masalah yangga, kini berubah menjadi drama baru yang penuh dengan sindiran-sindiran kecil.
"Ciyee... Dreeko," goda Melya suatu siang saat kami sedang berpapasan di koridor. Dia berjalan melambat, menyejajarkan langkahnya denganku sambil tersenyum nakal. "Ada yang lagi jadi idola kakak kelas, nih."
Aku hanya menoleh sebentar, mencoba tetap tenang. "Apaan sih, Mel? Gosip saja."
"Bukan gosip, Dree! Cantik-cantik lagi kakak kelasnya. Siapa sih yang nggak mau sama mereka?" Melya terus melanjutkan ejekannya. Nada suaranya terdengar ceria, tapi aku bisa menangkap ada getaran lain di sana—sesuatu yang entah itu rasa lega karena ada pengalihan isu, atau justru rasa cemburu yang ia bungkus rapat dalam sebuah candaan.
Mungkin itu alasannya kenapa belakangan ini dia terlihat semakin sering merespons ajakan jalan atau komunikasi dari Yungga. Apakah dia sengaja melakukannya agar aku juga merasakan apa yang dia rasakan saat melihatku dikejar kakak kelas? Ataukah dia benar-benar ingin beranjak pergi karena merasa aku sudah punya "pilihan" lain?
"Ciye, Dreeko... jangan sombong ya kalau nanti sudah jadian sama mereka," tambahnya lagi sambil tertawa kecil, meskipun matanya tidak benar-benar tertawa.
Aku tidak membalas dengan kata-kata. Aku hanya menatapnya, lalu memberikan sebuah senyuman tipis—jenis senyuman yang sebenarnya ingin bilang: 'Mau sebanyak apa pun kakak kelas yang suka, mataku tetap cuma mencari kamu di jendela kelas setiap pagi.'
Kami terus berjalan, saling melempar ejekan dan senyuman, sementara di dalam hati, kami berdua tahu bahwa tawa ini hanyalah cara kami untuk tidak saling menangis. Kami saling mencintai, namun kami membiarkan orang-orang baru masuk ke dalam lingkaran kami hanya untuk membuktikan siapa yang lebih kuat menahan rasa sakit.
"Tertawa adalah cara terbaik untuk menyembunyikan rasa sesak, saat kita melihat orang yang kita inginkan mulai menyebut nama lain sebagai lelucon."
Bab 17: Persimpangan IPA dan IPS
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menarik diri dari pusaran drama yang melelahkan bersama Melya. Aku lebih banyak menghabiskan waktu mengobrol dengan teman laki-laki kelas dua yang waktu itu memberiku peringatan. Melalui dialah, duniaku dengan para senior ini mulai terbuka.
Ternyata, dua kakak kelas yang menyukaiku ini punya karakter yang bertolak belakang. Satu dari jurusan IPS, yang pembawaannya lebih santai dan berani, dan satu lagi dari jurusan IPA yang lebih tenang dan terkesan misterius.
Namun, entah karena suratan takdir atau sekadar kebetulan, aku menjadi jauh lebih dekat dengan kakak kelas yang dari jurusan IPA.
Kedekatan itu bermula karena salah satu teman baikku ternyata sekelas dengan dia. Melalui perantara teman sekelasku itulah, komunikasi kami menjadi lebih lancar. Jika biasanya aku hanya melihatnya dari jauh saat istirahat, kini kami mulai sering bertukar sapa, bahkan mengobrol di kantin atau di belakang kelas saat jam pulang sekolah.
Sedikit aku akan kenalkan teman yang mendekatkan aku dengan perempuan kelas 2 ipa itu , dia adalah rezkim dia adalah temanku yang beda kelas dia lebih senior karena di atas ku, kami saling kenal dengan nya di karnena kan memilih ekstrakulikuler yang sama yaitu sepak bola , aku dekat dengan dia karena memilki visi misi dalam sepak bola yang sama dan semenjak itu kita sering ngobrol bareng, bahas sana sini, dan dia sering main kerumah ku di situla kami dekat pertemananya , dan kita lanjut ke cerita nya lagi karena ini bukan tentang dia.
Ada perbedaan rasa yang nyata saat aku bersama dia kaka kelas 2 ipa. Jika bersama Melya semuanya terasa penuh dengan ledakan emosi, cemburu, dan kode-kode yang rumit, sedangkan dengan kakak kelas IPA ini membawa suasana yang lebih teduh. Dia lebih dewasa, bicaranya tertata, dan yang paling penting: dia tidak memberiku teka-teki tentang "siapa pemenangnya".
Teman-temanku mulai sering menggodaku saat melihatku berjalan menuju gedung kelas IPA.
"Wah, Dreeko mulai pindah haluan nih, dari adik kelas ke kakak kelas," canda mereka.
Aku hanya menanggapi dengan tawa ringan. Di saat hati masih sedikit lebam karena cerita tentang Yungga, perhatian dari kakak kelas ini seperti oase ( tempat istirahat) yang menenangkan. Aku mulai menikmati percakapan kami, mulai dari bahasan soal tugas sekolah hingga hal-hal remeh yang ternyata kami sukai bersama. Dan ternyata kami punya kesamaan menyukai film yang sama yaitu film lupus di situlah kami mulai merasa dekat dan saling berbagi cerita satu sama lain.
Meskipun di sudut hati yang terdalam, bayangan Melya yang sering mengejekku dengan kata "ciyee" masih sering melintas, aku memutuskan untuk membiarkan diriku hanyut dalam kenyamanan baru ini. Aku ingin tahu, apakah kedekatan ini hanya sekadar pelarian, ataukah memang pintu baru yang terbuka saat pintu yang lama terasa semakin sulit untuk diketuk.
"Terkadang kita mencari tempat berteduh yang baru, bukan karena rumah lama sudah hancur, tapi karena kita lelah mengetuk pintu yang tak kunjung dibuka."
Bab 18: Pertemuan di Balik Dinding Kelas
Nama mereka mulai sering terdengar di telingaku: Izma dari jurusan IPA dan Difi dari jurusan IPS. Keduanya memiliki pesona masing-masing yang diakui satu sekolah. Difi dengan gaya anak IPS-nya yang mungkin lebih luwes, sementara Izma memiliki aura yang membuatku penasaran. Namun, sejujurnya, di dalam kepalaku tetap saja ada standar yang belum goyah: Melya tetap yang paling cantik. Menurut ku mungkin ini jahat , tapi itu kenyataan perasaan yang sedang di rasakan.
Tapi, Izma menawarkan sesuatu yang berbeda. Dia bergerak dengan taktik yang rapi. Lewat teman sekelasnya yang juga temanku, aku tahu bahwa Izma sudah mencari tahu segalanya tentangku. Dia tahu dari mana asalku, di mana aku tinggal, bahkan mungkin hal-hal kecil yang tidak pernah kuceritakan pada orang lain.
Perhatian yang begitu "niat" ini perlahan-lahan mulai mengalihkan fokusku. Untuk sejenak, aku berhenti memikirkan tentang Yungga, Sasmita, atau kerumitan rasa dengan Melya.
Suatu siang, melalui perantara "Teman sekelasnya" Izma mengajakku bertemu.
"Dree, nanti setelah istirahat, Izma tunggu di belakang kelas ya. Mau ngobrol," begitu pesan yang sampaikan kepadaku lewat Perantara Temannya yang sama juga Teman ku.
Kebetulan, letak kelas kami memang berdekatan. Hanya butuh beberapa langkah untuk sampai ke area belakang yang agak tertutup dari keramaian koridor utama.
Aku datang ke sana dengan perasaan campur aduk. Di belakang gedung kelas itu, Izma sudah menunggu. Dia berdiri dengan tenang, seragam IPA-nya rapi, dan matanya langsung tertuju padaku saat aku muncul.
"Akhirnya datang juga, Dree," ucapnya sambil tersenyum. Senyumnya dewasa, tipe senyum yang tahu persis apa yang dia inginkan.
Kami mulai mengobrol. Bukan lagi lewat kode atau sindiran seperti yang biasa kulakukan dengan Melya, tapi obrolan yang lebih mengalir tentang keseharian. Dia banyak bertanya, dan aku banyak bercerita. Ada rasa nyaman yang aneh saat menyadari ada seseorang yang begitu antusias mengenalku lebih dalam tanpa aku harus bersaing dengan orang lain seperti Yungga.
Di sela-sela obrolan itu, aku sempat melirik ke arah kelasku. Aku bertanya-tanya, apakah Melya melihatku? Apakah dia tahu bahwa laki-laki yang sering dia ejek "ciye" ini sekarang benar-benar sedang berdiri berdua dengan kakak kelas yang sering ia bicarakan? Saat itu, aku merasa mungkin inilah cara hidup memberitahuku bahwa aku berhak mendapatkan ketenangan, meskipun hatiku masih sering berdenyut setiap kali mendengar nama Putri Melya Safira Melasari .
"Kepastian yang ditawarkan orang baru seringkali terasa lebih menenangkan daripada janji-janji semu dari masa lalu yang penuh teka-teki."
Bab 19: Pertemuan yang Tak Terduga
Hari-hari berikutnya, keberadaanku di belakang kelas bersama Izma seolah menjadi rutinitas baru setiap jam istirahat. Percakapan kami semakin asik dan mengalir. Izma adalah pendengar yang baik, dan perhatiannya yang konsisten perlahan-lahan mulai mengisi kekosongan yang sempat ditinggalkan oleh drama hubunganku dengan Melya.
Namun, ketenangan itu pecah dalam satu detik yang tak pernah kubayangkan.
Siang itu, saat aku dan Izma tengah asik tertawa kecil membicarakan sesuatu, terdengar suara langkah kaki yang ragu di balik tembok kelas. Sesosok perempuan muncul, dan duniaku seolah berhenti berputar saat menyadari bahwa itu adalah Melya.
Entah dia sengaja lewat sana atau memang tak sengaja ingin ke belakang kelas, yang pasti mata kami bertemu.
Suasana mendadak hening. Izma terdiam, aku terpaku, dan Melya berdiri membeku di tempatnya. Wajah Melya yang biasanya penuh dengan ejekan "ciye" itu kini pucat pasi. Matanya yang bulat memancarkan luka yang sangat nyata, seolah dia baru saja melihat sesuatu yang paling tidak ingin dia lihat di dunia ini.
"Maaf... maaf ganggu," ucap Melya sambil terbata-bata dengan suara yang bergetar.
Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan lari sekencang mungkin menuju arah kelas. Aku sempat melihat bahunya sedikit bergetar.
Aku ingin mengejarnya, tapi kakiku terasa berat. Aku teringat ucapanku sebelumnya yang menyuruhnya memilih Yungga , karena aku begitu sangat cemburu dia jalan dengan orang lain dan yang memberitahu ku itu bukan dia tapi temanya, dan sekarang aku berdiri di sini bersama orang lain. Ada rasa bersalah yang menghantam dadaku, tapi ada juga rasa bingung karena dialah yang mendorongku ke situasi ini.
Tak lama setelah kejadian itu, Sasmitaa—si teman dekat nya Melya yang selalu punya informasi—menghampiriku dengan wajah ketus.
"Puas kamu, Dree? Melya nangis sesenggukan di kelas gara-gara lihat kamu tadi," cetus Sasmita tanpa basa-basi.
Kabar itu seperti pukulan telak. Ternyata benar, tangisan yang selama ini dia sembunyikan di balik candaan, akhirnya pecah juga. Ternyata dia tidak sekuat itu melihatku benar-benar pergi dengan orang lain. Kini aku terjebak di persimpangan yang paling sulit: tetap bersama Izma yang memberiku ketenangan, atau kembali mengejar Melya yang ternyata masih sangat mencintaiku di balik kerumitan yang kami buat sendiri
"Penyesalan terdalam adalah saat kita melihat seseorang menangis karena perbuatan kita, tepat di saat kita sedang mencoba untuk melupakannya."
Bab 20: Dua Orang Asing di Ruang yang Sama
Setelah insiden di belakang kelas itu, segalanya mati total.
Tembok yang kami bangun kali ini jauh lebih tinggi dan lebih tebal dari sebelumnya. Tidak ada lagi sapaan "Morning, Dree", tidak ada lagi ejekan "ciye", bahkan senyum pun terasa sangat mahal untuk diberikan. Kami seolah-olah sedang berlomba: siapa yang paling hebat berpura-pura tidak mengenal satu sama lain.
Setiap kali aku masuk ke kelas dan melihat Melya ada di sana, aku akan segera mencari alasan untuk keluar. Begitu pun sebaliknya. Jika dia melihatku sedang berkumpul dengan teman-teman di depan kelas, dia akan memilih berdiam diri di dalam bersama Sasmita. Kami menjadi ahli dalam membaca pergerakan satu sama lain hanya untuk memastikan bahwa jalur kami tidak akan pernah bersilangan.
Minggu-minggu berlalu dalam kebisuan yang menyiksa. Hingga suatu siang saat jam istirahat, keheningan itu pecah oleh celetukan salah satu teman sekelas yang sedang duduk melingkar denganku dan teman-teman lainnya di depan kelas.
"Aneh ya kalau dipikir-pikir," ucapnya sambil memandang ke arah pintu kelas, di mana Melya terlihat sedang bercengkrama dengan teman-temannya di dalam. "Lihat deh Dreeko sama Melya. Dulu sudah kayak orang pacaran, romantis banget, nempel terus. Eh, ujung-ujungnya malah nggak bersama."
Teman-teman yang lain mulai ikut menimpali dengan tawa kecil. "Iya benar. Sekarang masing-masing sudah punya pacar sendiri. Kayaknya emang cinta nggak merestui mereka buat barengan ya? Takdirnya cuma buat jadi penonton masing-masing."
Tawa pecah di sekelilingku. Bagian mereka, itu adalah candaan ringan tentang sebuah "drama sekolah" yang gagal berakhir bahagia. Tapi bagiku, setiap tawa itu terasa seperti jarum yang menusuk telapak tanganku. Aku hanya bisa terdiam, memaksakan sebuah senyuman tipis yang tidak sampai ke mata.
Di dalam kelas, aku bisa melihat Melya melalui celah pintu. Dia mungkin mendengar percakapan itu, atau mungkin dia juga sedang merasakan hal yang sama denganku: bahwa keberhasilan kami memiliki pasangan masing-masing (aku dengan Izma dan dia dengan Yungga) sebenarnya adalah kegagalan terbesar kami dalam memperjuangkan apa yang sebenarnya kami rasakan.
Kami memang memiliki pacar, tapi kami kehilangan satu sama lain. Dan di sekolah itu, di depan teman-teman yang tertawa, aku menyadari bahwa ”cinta yang paling menyakitkan bukanlah cinta yang bertepuk sebelah tangan, melainkan cinta yang saling memiliki namun dipaksa mati oleh gengsi dan keadaan”.
"Kita adalah aktor terbaik di panggung ini; sukses memerankan orang asing, meski hati kita sebenarnya masih saling mencari di sela-sela sepi."
Bab 21: Satu Tahun dalam Kebisuan
Akhirnya, takdir yang diramalkan teman-teman sekelas menjadi kenyataan. Kabar itu datang bertubi-tubi: Sasmita dan teman sebangkuku memastikan bahwa Ayu kini resmi menjadi milik Yungga. Ada rasa sesak yang sempat singgah, namun aku segera menepisnya.
"Sudahlah, Dree. Sama Izma saja. Dia jelas sayang sama kamu, dukungan dari teman kelas 2 itu yang juga temanku ,"yang selama ini menjadi perantaraku dengan Izma semakin dekat.
Mungkin karena lelah dengan ketidakpastian dan ke egoisan bersama Melya, atau mungkin karena aku merasa harus segera "menang dalam ego sendiri" dalam persaingan gengsi ini, aku pun meresmikan hubunganku dengan Izma. Kami menjadi pasangan yang sering terlihat bersama di kantin atau di belakang kelas 2 IPA.
Dan di situlah keajaiban sekaligus tragedi sekolah dimulai.
Selama kurang lebih satu tahun—dari Pertengahan semester sekolah kelas satu hingga pertengahan kelas dua—aku dan Melya benar-benar menjadi dua orang asing yang paling asing. Tidak ada kata "Morning", tidak ada petikan gitar, bahkan tidak ada satu pun senyum yang terlintas saat kami berpapasan di koridor. Kami melewati satu sama lain seolah-olah kami hanyalah bayangan yang tidak memiliki masa lalu.
Setiap kali aku melihatnya Melya di jemput pulang bersama Yungga, atau saat dia melihatku bersama Izma, kami sama-sama membuang muka. Kami membungkus luka kami dengan status baru, mencoba meyakinkan dunia (dan diri kami sendiri) bahwa kami sudah bahagia dengan pilihan masing-masing.
4 bulan adalah waktu yang sangat sunyi. Gitar yang sering aku mainkan dengan nya di pojok kelas itu sudah tidak ada mendengar suara nyanyian yang indah , dan lagu-lagu Sheryl Sheinafia tidak lagi pernah terdengar dari bibir Melya di hadapanku. Kami tumbuh dewasa di kelas yang sama, namun di semesta yang berbeda.
"Tiga ratus enam puluh lima hari adalah waktu yang lama untuk membuktikan bahwa kebungkam bukanlah obat, melainkan luka yang membusuk perlahan."
Bab 22: Menjadi Asing di Bawah Atap yang Sama
Keputusan itu akhirnya diambil tanpa kata-kata, namun dipatuhi dengan sangat setia. Aku dan Melya sepakat untuk berhenti—berhenti mencoba, berhenti menyapa, dan berhenti peduli. Kami memilih untuk menenggelamkan diri dalam kesibukan masing-masing, seolah-olah semua tawa di belakang sekolah dan genggaman tangan di jam kosong itu hanyalah mimpi siang bolong.
Melya hidup di dunianya bersama Yungga, dan aku hidup di duniaku bersama Izma.
Kami berjalan di koridor yang sama, duduk di kelas yang sama, bahkan mungkin menghirup udara yang sama, tapi kami bersikap seolah-olah ada jurang tak kasat mata yang memisahkan kami. Tidak ada lagi curi-curi pandang. Tidak ada lagi senyum tipis saat berpapasan. Kami benar-benar menjadi dua orang asing yang tidak pernah mengenal satu sama lain.
Tentu saja, telinga kami tidak bisa sepenuhnya menutup dari gunjingan orang-orang. Di sudut kantin atau di bangku-bangku depan kelas, suara-suara itu masih sering terdengar: "Aneh ya, mereka kok bisa sampai segitunya nggak tegur sapa?" atau "Padahal dulu lengket banget, sekarang kayak musuh."
Tapi kami tidak peduli. Kami membiarkan orang-orang sibuk dengan spekulasi mereka, sementara kami sibuk dengan pura-pura kami.
Mungkin inilah cara kami saling menghormati pasangan masing-masing. Atau mungkin, inilah cara kami melindungi diri dari rasa sakit yang akan muncul jika salah satu dari kami berani membuka suara. Keheningan ini menjadi benteng terakhir kami. Di bawah atap sekolah itu, kami membuktikan “bahwa terkadang, jarak terjauh bukanlah kilometer yang memisahkan, melainkan dua orang yang duduk berdampingan namun hati mereka sudah saling melepaskan”.
Kisah ini mungkin menggantung di mata orang lain, tapi bagiku dan Melya, kebisuan ini adalah jawaban yang paling jujur untuk sebuah rasa yang datang di waktu yang salah.
Mungkin cerita ini cukup sampai disini dulu dan masih banyak lagi yang akan ku ceritakan karena minuman ku sudah habis aku mau bikin minuman kopi, tapi aku lupa isi gas nya tadi dan semoga cerita kedepan nya menjadi lebih baik dan menyenangkan , mungkin cukup sampai di sini dulu aja ya ... see you again..
Ini ada sedikit bocoran dari ingatanku
Sampai akhirnya, waktu terus berlalu dan kami pun lambat laun mulai ada senyum senyum kecil setelah melewati satu tahun kurang lebih setelah kami beranjak naik kelas 2 , dan itu membawa kami ke sebuah titik balik setelah lamanya waktu yang kami jalani. Dan tepat semester 2 pertengahan kelas 2 kami pun memulai Sebuah tegur sapa yang sederhana, yang akhirnya meruntuhkan tembok es yang sudah kami bangun selama 365 hari kurang lebih nya segitu
"Pada akhirnya, kita belajar bahwa melepaskan bukan berarti melupakan, tapi membiarkan dia menjadi bagian dari cerita yang hanya bisa kita baca, tanpa bisa kita tulis kembali."
Udahh dulu yaaa see youuu comingson...
"Karena sekuat apa pun es membeku, ia akan luluh oleh hangatnya sebuah tegur sapa yang datang dari hati yang sudah lelah berpura-pura."
Komentar
Posting Komentar