RABUN JAUH
BAB 1: LENSA YANG KABUR
Nama saya Muhamad Andri. Tapi, jangan harap ada yang menoleh kalau kamu meneriakkan nama itu di tengah hiruk pikuk tongkrongan atau di sela-sela antrean kopi. Di sana, di dunia nyata yang penuh label, saya lebih dikenal dengan panggilan Ndrew. Nama yang terasa lebih ringkas, sedikit lebih akrab, dan mungkin... sedikit lebih menyembunyikan siapa diri saya sebenarnya.
Sebelum saya melangkah lebih jauh untuk membongkar kotak pandora berisi kenangan ini, izinkan saya melakukan satu hal yang sangat krusial. Saya harus ke kamar mandi sebentar. Ya, saya serius. Jangan tertawa. Menahan kencing itu tidak hanya buruk bagi kesehatan ginjal, tapi juga bencana bagi konsentrasi. Dan untuk menceritakan tentang dia, saya butuh kepala yang jernih, bukan kepala yang dipenuhi sinyal darurat dari kandung kemih. Menulis tentang perasaan sambil menahan hajat itu rasanya seperti mencoba menyontek saat ujian tapi diawasi tiga guru killer sekaligus; gelisah, berkeringat dingin, dan sama sekali tidak fokus.
Oke, saya sudah kembali. Tarikan napas saya sekarang jauh lebih panjang. Mari kita mulai.
Mari kita bicara tentang dia. Sosok perempuan yang sampai detik ini, saat jemari saya masih ragu-ragu menari di atas tuts keyboard, masih terasa seperti objek yang terkena efek blur. Kamu tahu rasanya melihat pemandangan indah di kejauhan tanpa kacamata, padahal matamu minus lima? Semuanya tampak samar. Kamu tahu di sana ada sesuatu yang mempesona—mungkin gradasi warna yang cantik atau siluet yang anggun—tapi kamu tidak bisa memastikan di mana garis tepi bentuknya.
Itulah posisinya di hidupku saat ini. Sebuah ketidakpastian yang indah.
Aku tidak tahu akan jadi apa kami nantinya. Apakah kami akan tetap berjalan bersisian sebagai teman yang saling melempar canda hambar? Ataukah hubungan ini akan melangkah ke babak baru yang orang-orang sebut pacaran? Atau, yang paling pahit dan sering menghantui malam-malam sepi: apakah ini hanya tentang aku yang menatap punggungnya dari jauh sementara dia tidak pernah benar-benar menoleh? Sebuah simfoni cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Intinya, aku benar-benar tidak tahu kedepannya seperti apa. Semuanya masih rabun jauh. Tapi mungkin, dengan menuliskan setiap detail yang tersisa di ingatan ini, perlahan-lahan lensa itu akan mulai fokus.
Proyek "Dialog Saja"
Semuanya bermula dari sebuah keberuntungan yang dibungkus program pemerintah. Namanya Elya. Kami adalah rekan satu perjuangan di sebuah kursus gratis—salah satu program negara untuk mereka yang ingin menambah skill. Selama dua bulan, kami terjebak di gelombang yang sama, bergelut dengan materi yang terkadang membosankan tapi berhasil membangun ikatan pertemanan yang cukup awet. Bahkan setelah kursus itu bubar, kami tetap terhubung lewat jendela kecil bernama WhatsApp.
Aku sendiri punya obsesi kecil yang sering kusimpan rapat: aku ingin menjadi seorang seniman. Ya, aku tahu, nilai seniku di sekolah dulu mungkin tidak akan membuat kurator galeri seni melirik. Tapi ada kepuasan yang tak terlukiskan saat aku duduk di depan teras sambil memandangi gambar gambar, menggerakkan tangan, dan melihat garis-garis digital dalam aplikasi vektor mulai membentuk sebuah karakter. Aku mencintai animasi vektor; dunia di mana garis yang kaku bisa menjadi sangat hidup.
Suatu sore, sebuah ide melintas di kepalaku. Aku ingin karyaku tidak hanya diam. Aku ingin mereka punya "nyawa". Aku teringat Elya. Dia punya suara yang unik, tipe suara yang enak didengar saat membacakan sesuatu, dan aku tahu dia suka sekali bernyanyi serta membaca buku.
"El, gabung yuk? Kita bikin semacam kolaborasi karya seni digital," ajakku lewat pesan singkat. Konsepnya sederhana: aku yang menghidupkan visual lewat animasi, Elya yang mengisi jiwanya dengan suara. Semacam dialog antara gambar dan rasa.
Namun, kami langsung membentur tembok besar. Kami buntu soal naskah. Aku butuh kata-kata yang punya 'darah' dan 'nyawa', bukan sekadar rima yang dipaksakan atau kutipan galau yang pasaran.
"Aku punya teman, Ndrew. Dia jago banget bikin puisi. Namanya Indah," usul Elya suatu hari.
Tanpa banyak tanya, aku setuju. Sebuah grup WhatsApp baru pun lahir. Aku menamainya dengan sederhana namun penuh harapan: Dialog Sajak. Di sanalah, untuk pertama kalinya, nama "Indah" muncul di layar ponselku, bersanding dengan foto profil yang belum terlalu kuperhatikan saat itu.
Elya memperkenalkan kami secara formal. Dari obrolan di grup, aku baru tahu kalau mereka berdua ini ternyata sering siaran radio bareng. Tidak heran jika Indah begitu akrab dengan kata-kata. Begitu Indah mengirimkan draf puisi pertamanya untuk proyek kami, aku terdiam cukup lama. Jariku yang biasanya lincah mengedit garis vektor mendadak kaku. Aku memberikan emoji jempol, tapi di dunia nyata, aku benar-benar kagum. Tulisan Indah bukan sekadar puisi; itu adalah perasaan yang disusun dengan presisi seorang arsitek namun memiliki kelembutan seorang ibu.
Di titik itulah, sosok Indah mulai masuk ke radar hidupku. Bukan sebagai wanita yang kucintai, tapi sebagai penulis puisi yang karyanya berhasil mencuri kekagumanku.
Gema yang Kembali
Waktu berjalan, namun proyek "Dialog Sajak" tidak berjalan selamanya. Elya, suara utama kami, memilih mundur. Dunia nyata memanggilnya; dia harus fokus melamar pekerjaan dan membangun karier. Grup yang tadinya riuh bertiga, kini menyisakan aku dan Indah. Sunyi.
Namun, di tengah kesunyian grup itu, sebuah pintu baru terbuka. Kami mulai sering melakukan private chat. Awalnya hanya basa-basi, menanyakan kabar atau progres karya masing-masing. Aku tahu diri. Indah sudah punya pacar, dan aku bukan tipe pria yang hobi menjadi pengganggu di hubungan orang. Tapi anehnya, meski tanpa topik yang jelas, obrolan kami seperti air yang mengalir di musim hujan selalu menemukan celahnya sendiri untuk tetap bergerak.
Lalu, semesta memberikan jeda yang cukup panjang. Kami sempat hilang kontak. Satu tahun, mungkin dua tahun... "Dialog Sajak" benar-benar menjadi bisu. Aku sibuk dengan duniaku, dan dia dengan dunianya. Sampai suatu sore menjelang malam, ponselku bergetar.
"Hy Ndrew, masih ingat aku nggak?"
Darahku terasa berdesir. Tentu saja aku ingat. Nomor itu tidak pernah kuhapus, seolah ada insting di dalam diriku yang mengatakan bahwa cerita ini belum selesai. Kami mulai mengobrol lagi. Bertanya tentang pekerjaan, tentang hidup, dan perlahan-lahan, tembok canggung itu runtuh dengan sendirinya.
Indah kemudian bercerita tentang badai yang baru saja lewat di hidupnya. Dia kecewa. Hubungannya berakhir. Aku ingat saat itu aku merasa kikuk, bingung harus memberikan reaksi seperti apa. Aku tidak ingin terdengar senang di atas penderitaannya, tapi aku juga tidak ingin terlihat terlalu mengasihani.
"Mungkin Tuhan lebih sayang kamu, Ndah. Makanya dicukupkan sampai di sini saja hubungannya," kataku, mencoba menjadi bijak di tengah kegugupan.
Hari-hari berikutnya, suasana berubah. Indah mulai rajin menyapaku. "Morning, Ndrew," tulisnya. Pesan-pesan sederhana yang mulai terasa romantis. Hingga akhirnya, sebuah kalimat keluar yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak sesaat:
"Ndrew, mau nggak temenin aku move on?"
Aku tidak butuh waktu lama untuk mengetik jawaban. "Mau, Ndah. Nggak apa-apa Andri dijadikan apa saja sama Indah, yang penting Indah bahagia." Sebuah janji yang tulus, sekaligus menjadi awal dari kegelisahan panjang yang kupelihara sampai sekarang.
Kami semakin dekat, bahkan mulai menggunakan panggilan sayang sebagai candaan yang lama-lama terasa nyata. Tapi, ada satu masalah besar: Kami belum pernah bertemu secara fisik.
Kesibukan pekerjaan, terutama di pihakku, menjadi penghalang utama. Aku sering menjanjikan pertemuan, tapi waktu selalu punya cara untuk tidak mendukungku. Aku tahu, perempuan mana yang tahan hanya diberi harapan lewat layar? Aku tahu dia pasti berpikir aku hanya laki-laki "omong doang" yang pengecut untuk bertemu.
Ndah, lewat tulisan ini—lewat buku yang sedang kususun ini—aku ingin kamu tahu. Aku juga sangat ingin bertemu. Aku ingin melihat bagaimana matamu saat berbicara, bukan sekadar membayangkan emosimu lewat deretan teks.
Sekarang, aku berada di persimpangan jalan paling kritis. Aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku. Aku belum tahu akan bekerja di mana atau bagaimana cara menyambung hidup besok. Tapi ada satu hal yang pasti di kepalaku: Setelah surat pengunduran diri ini kuberikan, aku harus menemuimu, Ndah.
Entah apa yang akan terjadi setelah kita bertemu nanti. Apakah kita akan menjadi sepasang kekasih yang saling menggenggam, ataukah kita hanya akan tetap menjadi teman yang canggung? Aku tidak tahu. Semuanya masih blur. Semuanya masih rabun jauh. Tapi aku akan tetap melangkah, meski tanpa kacamata.
Komentar
Posting Komentar